Detail Event

Sisa peradaban masa lalu di negeri atas awan, dikemas dalam kegiatan apik nan romantis sebagai pemikat hati para pejalan yang merindukan perpaduan keindahan alam, keunikan budaya, dan keramah tamahan manusianya.


Tiket Acara Dieng Culture Festival 9 (DCF 9) 2018 sudah termasuk Goodie Bag berisi:

  • Lampion
  • Tiket Wisata 3 obyek (Kawah Sikidang, Komplek Candi Arjuna dan Telaga Warna)
  • Gelang
  • Kain Batik
  • Caping
  • T-shirt DCF 2018
  • Merchandise

ITINERARY DIENG CULTURE FESTIVAL 2018

JUM’AT, 3 AGUSTUS

08:00  :  Aksi Dieng Bersih
08:00  :  Penukaran Tiket
08:00  :  Festival Caping dan Bunga
08:00  :  Pameran Produk Kreatif UKM dan Kuliner
13:00  :  Ragam Pertunjukan Seni Tradisional
13:00  :  Kongkow Budaya
09.00  :  JAZZ ATAS AWAN
23.00  :  Festival Kembang Api

 

SABTU, 4 AGUSTUS

08:00  :  Festival Tumpeng
08:00  :  Ragam Pertunjukan Seni Tradisional
13:00  :  Kirab Budaya
19:00  :  Sendra Tari Rambut Gembel
20:00  :  Senandung NEGERI ATAS AWAN
23:00  :  Festival Lampion

 

MINGGU, 5 AGUSTUS 2018

08:00  :  Jamasan Rambut Gembel
09:00  :  Prosesi Ruwatan Cukur Gembel
13:00  :  Ragam Pertunjukan Seni Budaya

WISATA DATARAN TINGGI DIENG

Dalam rangkaian dieng culture festival selain menikmati pagelaran budaya kita juga bisa menikmati objek wisata  menarik yang ada di dieng , salah satunya adalah komplek candi arjuna yang menjadi venue acara Dieng culture festival tidak hanya komplek candi arjuna saja ada beberapa peninggalan sejarah lainnya ya ada di kawasan dataran tinggi dieng diantaranya candi bima, candi setyaki, candi Gathutkaca, candi candi dharawati. Terletak di sebelah barat candi terbesar yang ada di dieng yaitu candi bima, terdapat satu kawasan wisata yang menarik untuk di kunjungi yaitu kawah sikidang yang menjadi wisata andalan di kawasan dataran tinggi dieng.  Disamping itu dieng sebagai kawasan vulkanik aktif  yang mempunyai beberapa kawah yang tersebar di kawasan dataran tinggi dieng di antaranya kawah Candradimuka, Kawah sileri, kawah sikendang, kawah  timbang, kawah sibanteng. Sebagai dampak keberadaan kawah-kawah tersebut terdapat pula kaldera atau bekas letusan gunung api purba yang hingga saat ini masih bisa di lihat keberadaanya. Telaga warna adalah salah satu kaldera yang dimanfaatkan sebagai wahana pariwisata populer di dataran tinggi dieng. Banyak juga telaga menarik untuk di kunjugi diantaranya telaga cebong, telaga merdada, telaga balekambang, telaga sidringo, telaga sewiwi.  Sebagai salah satu daerah yang mengandalkan sektor pertanian sebagai komoditi utama, masyarakat dieng memanfaatkan  peran kaldera atau telaga sebagai salah satu penunjang drainase pertanian. 

 

FESTIVAL TUMPENG

Acara budaya Dieng Culture Festival merupakan acara masyarakat yang mengangkat budaya-budaya asli di dieng pada khususnya dan di Jawa pada umumnya, dimana tumpeng merupakan symbol rasa syukur manusia pada maha penciptanya , maka Festival Tumpeng di adakan untuk mengajak masyarakat dan peserta bersyukur pada tuhannya yang maha esa yang telah memberikan pada umatnya, yang sudah dikatakan makmur

Pada Festival Tumpeng tahun ini, diharapkan dikuti oleh masyarakat dan pelaku pariwisata Dieng Kulon (rumah makan, homestay, hotel, dll)  Festival Tumpeng ini akan di lombakan dan para peserta Dieng Culture Festival ikut sebagai jurinya sekaligus tanyakuran bersama-sama.

Festival Tumpeng ini di adakan atau dimulai di hari ke dua sabtu 4 Agustus 2018.

 

FESTIVAL BUNGA

Dieng Culture Festival yang pada tahun ini mengangkat tema “The Beauty of Culture”, ada beberapa rangkaian acara baru yang menyita perhatian salah satunya adalah Festival Bunga Dieng acara ini di harapkan mengangkat potensi bunga yang ada di dieng khususnya bunga Calla lily, Bunga Calla lily di dieng identik dengan warna putih tetapi ada beberapa macam warna seperti warna merah, kuning, jingga, ungu, pink, hitam, hijau. Bunga ini adalah sebagai salah satu daya tarik dimana nantinya peserta Dieng Culture Festival dapat menikmati keindahan bunga Calla lily yang di tempatkan di beberapa spot di area acara Dieng Culture Festival seperti stand, photo booth, panggung, kendaraan selama acara kirab, selain itu peserta juga dapat bersua poto dan membeli bunga Calla Lily di Stand yang sudah disediakan.

 

KESENIAN TARI TOPENG / LENGGER

Kesenian Tari Lengger dari Wonosobo merupakan akulturasi dari kebudayaan Hindu dan Budha dengan Islam yang dihasilkan oleh Sunan Kalijaga, dan masih dilestarikan sampai saat ini. Namun, pada saat ini masyarakat luas dan masyarakat wonosobo sendiri kurang memahami arti dan fungsi Lengger yang sebenarnya.

Sejarah Tari Lengger Tari Lengger menurut ceritanya sudah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Brawijaya yang kemudian diadopsi oleh agama Islam untuk menyebarkan agama Islam diseluruh Nusantara. Tari ini berawal ketika Raja Brawijaya yang kehilangan putrinya, Dewi Sekartaji, mengadakan sayembara untuk memberikan penghargaan bagi siapa pun yang bisa menemukan sang putri. Bila pria yang menemukan akan dijadikan suami sang putri dan jika wanita maka akan dijadikan saudara. Sayembara yang dikuti oleh banyak ksatria ini akhirnya tinggal menyisakan dua peserta yaitu Raden Panji Asmoro Bangun yang menyamar dengan nama Joko Kembang Kuning dari Kerajaan Jenggala. Satu lagi, Prabu Klono dari Kerajaan Sebrang, merupakan orang yang menyebabkan sang putri kabur karena sang raja menjodohkannya.

Tari Lengger ditarikan oleh dua orang, yang pria memakai topeng dan yang wanita memakai pakaian tradisionalny kebesaran layaknya putri Jawa pada masa lampau. Penari menarikan ini sekitar 10 menit dengan diiringi dengan alunan musik gambang, saron, kendang, gong, dan sebagainya.

Bahkan beberapa seniman tari mencoba menciptakan tarian baru yang mengadopsi dari Tari Topeng Lengger. Salah satunya Kenyo Lengger, tarian yang diperkenalkan oleh Sanggar Ngesti Laras. Menurut Pendirinya Mulyani, Kenyo Lengger yang ditarikan oleh 5 orang wanita yang memakai kacamata hitam. “Tarian ini mengandung filosofi bahwa kita  bahwa manusia jangan terlena dengan silaunya kenikmatan dunia itu memakai kacamata hitam.” Jelas Mulyani.

Menurutnya lagi, yang membuat manusia terlena pada dunia adalah tahta, wanita, dan harta. Saat ini Tari Lengger biasa dipentaskan setiap acara hajatan, hari besar, syukuran, dan pesta rakyat lainnya. Bahkan untuk lebih diminati masyarakat, Tari Lengger juga bisa menyajikan atraksi yang berbau magis seperti kuda lumping tergantung keinginan pemesan. Dalam pencarian tersebut, Joko Kembang Kuning yang disertai pengawalnya menyamar sebagai penari keliling yang berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Lakon penarinya adalah seorang pria yang memakai topeng dan berpakaian wanita dengan diiringi alat musik seadanya. Ternyata dalam setiap pementasannya tari ini mendapat sambutan yang meriah. Sehingga dinamai Lengger, yang berasal dari kata ledek (penari) dan ger atau geger (ramai atau gempar). Hingga di suatu desa, tari Lengger ini berhasil menarik perhatian Putri Dewi Sekartaji dari persembunyiannya.

Sebelum pentas, tari Lengger diawali dengan sajian karawitan gending Patalon sebagai pertanda akan dimulai. Setelah itu dilanjutkan tembang Babadono, pada saat lagu Tolak Balak untuk menolak semua gangguan, seorang pawing tampil dengan membawa sesajen (kembang kanthil, mawar merah putih, sambal terasi, keluban tales, singkong bakar, terong lampu, gelas kembang, timun, bengkoang dan kemenyan). Setelah sesaji dianggap cukup seorang pawang tersebut membaca mantra sambil membakar kemenyan. Ini semua dimaksudkan untuk meminta kepada roh Endang (roh wanita pelindung mereka) agar mau turut merasuki para pemain dan melindungi semua pemain selama pentas seni Lengger berlangsung, agar terhindar dari gangguan dan marabahaya.

 

FESTIVAL CAPING GUNUNG

Dalam setiap pentasnya, setelah penari menarikan tariannya beberapa saat, seringkali muncul penari pria. Penari pria tersebut muncul sebagai pasangan dari penari perempuan, yang seringkali Festival  Caping Gunung Dieng Culture Festival

Festival caping gunung dalam acara dieng culture festival memiliki konsep Someting to buy, something to do, dan something buy. Seperti pada even yang lalu caping ini masuk dalam paket dalam pembelian tiket. Panitia megajak peserta secara langsung untuk merias dan mengecat Caping dengan  memfasilitasi cat di venue yang kemudian akan di beri penilaian oleh para juri dari festival caping gunung. Festival ini di maksudkan untuk mengangkat budaya dieng sekaligus mengenalkan kepada peserta keseharian penutup kepala yang di gunakan untuk menutup kepala saat beraktivitas di bawah terik matahari yang hingga sekarang caping ini masih senantiasa digunakan petani dieng.

menandakan klimaks pentas Lengger tersebut. Penari pria biasanya sampai kesurupan, kemasukan roh-roh jahat, dan bahkan sampai bisa makan beling atau kaca. Hal semacam inilah yang biasanya menjadi daya tarik para penonton untuk menyaksikan pentas Lengger.

 

ANAK GIMBAL, KEUNIKAN MISTIS DARI TANAH DIENG 

Dieng merupakan tempat yang mempunyai banyak potensi alam yang bisa dijadikan tempat wisata. Contoh-contoh tempat wisata yang ada di Dieng antara lain Telaga Warna, Telaga Cembong, Kawah Sikadang, Candi Arjuna, Candi Dwarawati, Dieng Plateau (tempat pemutaran film tentang Dieng), dan masih banyak lagi.

Di balik kekayaan alamnya yang sangat indah, jika Anda berkunjung ke Dieng pasti Anda akan menemukan beberapa anak yang berambut bajang (rambut gimbal). Di daerah Dieng, mempunyai anak atau keturunan yang berambut gimbal sudah merupakan hal yang biasa. Tetapi bagi orang awam yang baru berkunjung atau melihat secara langsung anak-anak ini pasti akan bertanya-tanya tentang asal-usul dari kejadian ini. Sebenarnya, tidak ada yang mengetahui secara jelas mengapa bisa terjadi hal seperti ini.

Ada 2 versi mengenai asal-usul anak gimbal ini. Pertama adalah masyarakat yakin rambut gimbal adalah keturunan dari nenek moyang yang menemukan daerah Dieng, yaitu Kyai Kolodete. Konon katanya, Kyai Kolodete tidak akan pernah mandi dan mencuci rambutnya sebelum daerah yang ditemukannya itu menjadi makmur. Hingga saat ini kepercayaan itu masih dianggap benar oleh masyarakat sekitar. Masyarakat menilai jika mereka memiliki keturunan yang berambut gimbal maka hidupnya akan makmur.

Versi keduanya, anak-anak di daerah Dieng memiliki rambut gimbal karena adanya gas belerang atau adanya sumber belerang di daerah Dieng. Maka pada saat ibu mereka mengandung, ibu mereka terlalu sering menghirup gas belerang, maka gen yang dihasilkan tidak sempurna dan anak yang lahir mempunyai rambut yang gimbal. Tetapi pendapat ini masih belum bisa dibuktikan kebenarannya.

Sesepuh desa di Dieng mengatakan, anak yang berambut gimbal adalah anak yang suci. Semua permintaan yang diminta oleh anak gimbal harus dituruti secara tepat, tidak boleh kurang maupun lebih. Masyarakat tidak berani melanggar pantangan-pantangan menyangkut mitos anak gimbal ini, seperti memotong rambut gimbal tersebut sebelum si anak meminta untuk dipotong. Apabila dilanggar maka akan mengakibatkan si anak sakit dan rambut pun kembali gimbal.

Adapun ritual yang diadakan untuk memotong rambut gimbal itu, dikenal masyarakat dengan nama Dieng Culture Festival. Biasanya acara ini diadakan pada bulan Sura dalam kalender Jawa dan diselenggarakan di kompleks Candi Arjuna. Pada ritual ini, mitosnya orangtua harus menuruti semua apa yang diminta oleh anaknya, jika tidak maka anaknya akan sakit-sakitan. Rangkaian acara ini pertama, anak gimbal akan dimandikan dengan air dari 7 sumber, kemudian diarak, dan dilempari beras kuning dan uang koin, baru dipotong rambut gimbalnya oleh pemuka adat. Terakhir, potongan rambutnya akan dibuang ke Telaga Warna.

 

CAMPING GROUND

Seperti pada dieng culture festival pada tahun sebelumnya, panitia kembali menyediakan area camping ground di alam terbuka untuk memudahkan peserta DCF yang tidak mendapatkan penginapan atau homestay, suasana alam terbuka dengan hawa dingin lebih terasa dan memberika sense lain kawasan itu bertambah meriah dengan kerlap kerlip lampu di pepohonan, dan wisatawan bisa menikmati suasana di alam terbuka dengan udara yang cukup sejuk, pihak panitia menyediakan sekitar 150 tenda, di bagi menjadi 3 cluster, pertama satu tenda beserta matras dan sleeping bag dikenakan tarif sekitar Rp 500,000-, untuk 3 hari 2 malam, yang ke dua tenda tanpa matras dan sleeping bagi wisatawan membayar sekitar Rp 350,000- untuk 3 hari 2 malam, yang ke tiga bagi wisatawan yang sudah membawa tenda sendiri beserta peralatan pribadi, kami juga menyediakan lahan/kafling untuk mendirikan tenda, lahan untuk satu tenda camping ground wisatawan  di kenakan tarif  Rp 200,000-.

 

Ketentuan Gelang :

  1. Satu Gelang hanya dipakai selama 3 hari acara.
  2. Gelang tidak bisa dialihkan/dijual.
  3. Gelang adalah sebagai alat akses masuk ke barbagai obyek wisata DCF.
  4. Obyek Wisata DCF yang bisa di akses pemakai gelang ada 3 yaitu Kawah Sikidang, Komplek Candi Arjuna dan Telaga Warna
  5. Pemakai gelang bisa masuk ke-3 obyek tersebut tanpa harus membeli tiket masuk lagi.
  6. Obyek wisata diluar 3 obyek wisata DCF maka pemakai gelang harus membayar tiket masuk sesuai ketentuan berlaku.
  7. Gelang tidak boleh hilang selama kegiatan DCF berlangsung.
  8. Apabila gelang hilang maka pemakai tidak bisa masuk lokasi acara DCF.
  9. Tidak ada penggantian gelang baru apabila hilang.
  10. Kehilangan/kerusakan gelang adalah tanggungjawab pemakai gelang.
  • Detail Harga